Showing posts with label Sirah. Show all posts
Showing posts with label Sirah. Show all posts

Friday, August 12, 2011

perang mu'tah

Perang Mutah adalah perang berdarah pertama antara kaum muslim dan Romawi, sekaligus show of force di hadapan kekuatan musuh kabilah Arab karena berhadapan dengan negara adidaya kala itu. Perang ini merupakan perang untuk membuka penaklukan ke negeri-negeri Nasrani. Mu’tah merupakan sebuah daerah yang letaknya dekat dengan Palestina (dulu masuk wilayah Syam/Siria).

Terjadinya Perang Mutah

Islam dengan kemuliaannya selalu menjaga keagungan-Nya. Islam terbebas dari tuduhan selama ini yang menyatakan bahwa Islam adalah agama teroris, perusak, tidak cintakan kedamaian. Padahal, Islam sangat menghargai ikatan perdamaian. Islam tidak akan memulai peperangan sebelum musuh melakukan kesalahan atau memulai peperangan terlebih dahulu.

Penyebab perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallam mengirim surat kepada para raja untuk berdakwah dan bertabligh kepada mereka. Salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra. Ketika sampai di Mautah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu. Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi peniimpin pasukan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja'far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya".

Seorang Yahudi, ketika mendengar perkataan ini berkata, "Ketiga orang sahabat yang telah ditunjuk sebagai amir tersebut pasti akan mati. Anbiya AS. pun, dahulu telah mengucapkan kata-kata yang demikian". Kemudian Rasulullah SAW memberikan bendera berwarna putih epada Zaid bin Haritsah ra. Beliau sendiri ikut mengantar rombongan untuk melepas mereka. Di luar kota, ketika orang-orang yang mengantarkan pasukan tersebut akan kembali, maka beliau berdoa untuk para mujahidin ini dengan doa keselamatan, kejayaan, dan agar mereka dijauhkan dari semua perkara yang buruk sampai mereka kembali.

Do'a Rasulullah SAW ini dijawab oleh Abdullah bin Rawahah ra. dengan membaca tiga bait syair yang maksudnya:

Engkau meminta ampunan dari Tuhanmu.
Sedangkan kami menginginkan pedang yang akan memutuskan pembuluh-pembuluh darah atau tombak yang akan menusuk lambung dan hatiku
Jika nanti, orang-orang melewati kuburan kami, mereka akan berkata:
Inilah orang-orang yang telah berjuang untuk Allah. Sungguh, kalian betul-betul telah mendapat petunjuk dan kejayaan

Setelah itu, berangkatlah pasukan tersebut. Syarahbil pun telah mendengar tentang keberangkatan pasukan ini. Dia telah menyiapkan pasukan sebanyak seratus ribu tentara untuk melawan kaum muslimin. Dalam pada itu, para sahabat r.ahum. juga telah mendengar kabar bahwa Heraclius, raja Romawi, juga telah mengirim seratus ribu tentaranya untuk ikut menyerang kaum muslimin. Maka dengan jumlah musuh yang demikian banyak tersebut membuat sebagian sahabat ra. menjadi ragu: meneruskan bertempur melawan musuh, ataukah memberitahukan kepada Rasulullah SAW. Abdullah bin Rawahah ra. berkata,

"Hai orang-orang. Apa yang kalian takuti?
Untuk apa kalian keluar meninggalkan Romawiah kalian?
Apakah kalian keluar ini bukan untuk mati syahid?
Kami adalah orang-orang yang tidak memperhitungkan kekuatan ataupun banyaknya orang dalam pertempuran.
Kami hanya berperang agar di suatu hari nanti, Allah s.wt. memuliakan kita.
Majulah. Setidaknya salah satu di antara dua kemenangan mesti kita dapatkan. Mati syahid, atau menang dalam pertempuran ini".

Mendengar kata-kata tersebut, semangat kaum muslimin pun bangkit kembali. Mereka terus maju sehingga sampailah pasukan tersebut di Mut'ah dan mulailah pertempuran berlangsung antara mereka dengan pasukan musuh. Dalam permulaan pertempuran, bendera dibawa oleh Zaid bin Haritsah ra. Dengan bendera di tangan, ia telah menyerang ke tengah Pertempuran. Mulailah berlangsung pertempuran. Ketika itu saudara Syarahbil telah terbunuh sedangkan kawan-kawannya melarikan diri. Syarahbil sendiri telah lari ke sebuah benteng dan bersembunyi di dalamnya. Kemudian Raja Heraclius mengirimkan bala bantuan lagi kurang lebih sebanyak dua ratus ribu orang tentara. Pertempuran berlangsung dengan begitu dahsyatnya. Akhirnya, Zaid ra. gugur syahid. Maka bendera kaum Muslimin segera diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib ra., setelah itu ia memotong kaki kudanya agar tidak berpikiran lagi untuk kembali. Sambil menyerang musuh, ia membaca beberapa bait syair yang terjemahannya sebagai berikut:

Hai orang-orang, apakah tidak baik surga itu
Dan surga itu sudah dekat
Betapa indahnya ia
Dan betapa sejuknya air surga
Telah dekat masa siksa bagi raja Romawi
Dan saya mempunyai kewajiban untuk membunuhnya

Setelah membaca syair tersebut, dipotonglah kaki kudanya dengan tangannya sendiri. Agar hatinya tidak berpikir untuk kembali. la menghunus pedangnya dan terjun ke tengah pertempuran melawan orang-orang kafir tersebut. Karena ia adalah pimpinan pasukan, maka bendera itu tetap berada di tangannya. Pada mulanya, bendera tersebut dipegang dengan tangan kanannya. Tetapi salah seorang pasukan kafir telah memenggal tangan kanannya sehingga bendera pun terjatuh. Maka bendera tersebut segera diambil dengan tangan kirinya. Tetapi, orang kafir itu telah memotong kembali tangan kirinya. Maka ia segera mendekap bendera itu di dada dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan digigitnya bendera itu dengan sekuat tenaga. Kemudian, seorang musuh dari arah belakang menebasnya dengan pedang sehingga tubuhnya terpotong menjadi dua. Ia pun roboh ke tanah, dan gugur dalam keadaan syahid. Pada saat itu, Ja'far bin Abi Thalib ra. baru beRomawiur tiga puluh tiga tahun.

Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa setelah Jafar ra. menjadi mayat, ketika mayat tersebut diangkat, di bagian muka tubuhnya terdapat sembilan puluh buah luka. Ketika Ja'far bin Abi Thalib ra. telah mati syahid, maka orang-orang memanggil Abdullah bin Rawahah ra. Ketika itu, ia sedang berada di sebuah sudut dengan beberapa tentara muslimin, sedang memakan sepotong daging karena sudah tiga hari lamanya mereka tidak makan sesuatu pun. Mendengar suara yang memanggilnya, maka dilemparkanlah sisa daging itu. Ia berkata memarahi dirinya sendiri,

"Hai lihatlah, Ja'far telah syahid, sedangkan kamu masih sibuk dengan keduniaanmu".

Maka ia segera maju menyerang ke depan dan mengambil bendera kaum muslimin. Tetapi, jari tangannya telah terluka berlumuran darah dan terkulai hampir putus. Kemudian jari itu diinjak dengan kakinya sendiri lalu ditarik tangannya sehingga terpotonglah jarinya tersebut. Kemudian, jari yang sudah terputus itu ia lemparkan, kemudian ia maju kembali ke medan pertempuran. Dalam keadaan susah dan payah seperti ini, ia merasa sedikit ragu di dalam hatinya karena hampir tidak ada semangat dan kekuataan lagi untuk berperang. Tetapi, keraguan tersebut hanya terlintas sebentar saja dalam hatinya. Ia segera berkata pada dirinya sendiri,

"Wahai hati, apa yang masih kamu ragukan, apa yang menyebabkan kamu ragu-ragu? Istrikah? Ia sudah saya talak tiga. Atau hamba sahaya yang kamu miliki? Semuanya telah saya merdekakan. Ataukah kebun? Itu pun telah saya korbankan di jalan Allah".

Setelah itu, ia membaca syair berikut:

"Wahai hati, kamu harus turun Meskipun dengan senang hati, ataupun dengan berat hati Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama. Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga".

Setelah itu, ia turun dari kudanya. Seorang sepupunya, yaitu anak pamannya, telah memberi sekerat daging kepadanya sambil berkata, "Makanlah ini untuk meluruskan tulang punggungmu." Karena sudah berhari-hari ia tidak makan, maka daging tersebut diterimanya. Baru saja ia mengambil daging tersebut, terdengarlah suara kekalahan. Akhirnya, dilemparkanlah daging tersebut. Ia segera mengambil pedangnya dan menyerbu ke kancah pertempuran melawan orang-orang kafir. Ia terus bertempur hingga mati syahid.

Thursday, September 17, 2009

CUCU KESAYANGAN INSAN MULIA


Oleh : Syeikhulislam
Disunting dan diringkaskan oleh : Aishahtur Raadhiyah Azman Shah

Sesungguhnya kehidupan dan kematiannya merupakan gambaran yang indah dari insan yang mulia, penuh pengorbanan, iffah, suci, jiwa yang tenteram dan bersih. Patut baginya memperolehi kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat, kerana dia adalah cucu Rasulullah SAW putera Saidina Ali ra. dan Fatimah Az-Zahrah, serta saudara kandung Husein, penghulu para syuhada. Layak pula baginya memperolehi tempat yang mulia di antara orang-orang soleh, kerana beliau meninggalkan jabatan khalifah dengan cara bermandikan darah para syuhada. Beliau mengutamakan serta meninggikan bendera Islam sebagai ganti mengumandangkan teriakan perang. Hatinya memancarkan rahmat, kasih sayang, kalbunya diliputi dengan perasaan kasih, dan jiwanya penuh dengan sifat keutamaan.

Bekas ciuman Nabi bau semerbak dari bibirnya. Baginda S.A.W mencintai Hasan dan saudaranya Husein, sehingga menjadikan kehidupan keduanya bagai kehidupan para malaikat. Keduanya hidup dalam naungan Ilahi. Pada masa kanak-kanaknya yang suci, mereka diberi ucapan-ucapan wahyu di lingkungan kenabian. Rasulullah S.A.W memberinya pelajaran dan cara hidup Islam serta pendidikan Ilahi. Dari lingkungan kedua orang tuanya, mereka mengambil suri teladan yang mulia. Dalam lingkungan yang jelas dan positif itulah Saidina Hasan dan Saidina Husein hidup berdampingan satu sama lain.

Hampir tiada berlalu suatu hari pun tanpa baginda S.A.W mengungkapkan kepada para sahabatnya tentang cintanya kepada cucu-cucunya. Badan Saidina Hasan banyak kemiripannya dengan bentuk badan Rasulullah. Diriwayatkan bahawa suatu hari Abu Bakar dan Ali sedang keluar dari masjid selesai solat. Tiba-tiba mereka berdua melihat Hasan r.a. sedang bermain. Lalu Abu Bakar ikut mengajaknya bermain. Setelah itu beliau berkata kepada Ali ra.: “Demi Allah, dia lebih mirip dengan Nabi SAW daripada denganmu.” Mendengar yang demikian itu Saidina Ali ra. tertawa.
Tentang kecintaan Nabi S.A.W kepada Saidina Hasan dan Saidina Husein, Abu Hurairah ra. pernah berkata: “Rasulullah S.A.W datang kepada kami bersama kedua cucunya, Hasan dan Husein. Yang pertama ada di bahunya yang satu, dan yang kedua ada di bahunya yang lain. Sesekali baginda S.A.W menciumnya, sampai baginda berhenti di tempat kami. Kemudian baginda bersabda: “Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husein) bererti ia mencintai aku. Barangsiapa membenci keduanya bererti ia membenci aku.” Hadith-hadith yang berhubungan dengan kecintaan baginda S.A.W terhadap Saidina Hasan dan Saidina Husein banyak disebut dalam sejarah Nabi SAW.

Berkaitan dengan Saidina Hasan, Nabi SAW memberitahukan bahawa ia akan mendamaikan antara dua golongan kaum muslimin. Beberapa tahun setelah itu ramalan tersebut betul-betul terjadi. Peristiwa itu terjadi setelah wafatnya Rasulullah SAW dan setelah Saidina Ali ra. meninggal dunia. Saat itu penduduk Iraq datang untuk membaiat Saidina Hasan. Mereka percaya bahawa Saidina Hasanlah yang paling berhak menduduki jabatan khalifah.

Pada waktu yang bersamaan penduduk Syam membaiat Muawiyah, sehingga pertempuran baru antara Iraq dan Syam tidak dapat dihindari lagi. Di sinilah nampak kecerdasan Saidina Hasan. Beliau berfikir, terbayang dalam benaknya apa yang pernah terjadi dalam perang Shiffin. Di situ ia melihat ramainya korban yang terbunuh dan darah yang mengalir, mengakibatkan anak menjadi yatim dan perempuan menjadi janda. Apa yang dihasilkan oleh perang hanyalah kebinasaan dan kerosakan. Beliau khuatir terulangnya kembali peristiwa peperangan dan pertumpahan darah antara sesama kaum muslimin.

Ketika ia sedang mencari jalan penyelesaian dari terjadinya pertumpahan darah tersebut, tiba-tiba datang surat dari Muawiyah kepadanya. Di dalamnya tersirat politik Bani Umaiyah untuk mengadakan perdamaian dengan syarat Saidina Hasan dijanjikan akan menjadi khalifah nanti setelah kematian Muawiyah.

Setelah Saidina Hasan selesai membaca surat tersebut, serta merta ia mengutus utusan untuk menemui saudaranya Husein di Madinah. Ia menganjurkannya menerima usul perdamaian tersebut. Demikian pula sikapnya saat para pemuka penduduk Iraq berkumpul di gedung pertemuan di Iraq. Beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya kalian membaiatku adalah untuk berdamai dengan orang yang mengajak damai dan berperang dengan orang yang mengajak perang. Sesungguhnya aku telah membaiat Muawiyah, maka dengarlah kata-kataku.”

Peristiwa ini diterima oleh penduduk Iraq secara terpaksa. Begitu pula halnya dengan Saidina Husein, beliau menerimanya secara terpaksa pula. Pada dasarnya semuanya menghendaki agar jabatan khalifah dipegang oleh keluarga Nabi, bukan didahului oleh Bani Umaiyah. Akan tetapi cara berfikir Saidina Hasan menuju kepada mencegah pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin. Cukuplah bagi beliau apa yang pernah terjadi dalam perang Shiffin. Akan tetapi Muawiyah tidak ingin menepati janjinya. Ia telah menetapkan perintah membaiat anaknya, Yazid. Politiknya adalah jangka panjang, meskipun pada mulanya keinginannya belum tercapai, namun ia menjadikan strateginya itu secara bertahap.

Akibatnya setiap sahabat Rasulullah SAW yang mendengar maksud Muawiyah tersebut bukan main marahnya. Sebab jabatan khalifah akan dipegang oleh penguasa yang bengis, sebagaimana yang pernah diberitakan oleh Rasulullah SAW.

Namun meskipun Saidina Hasan menjaga jangan sampai terjadi pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin. Tetapi tetap saja perkara-perkara lain muncul di hadapannya. Pada akhirnya berkali-kali beliau menghadapi usaha orang lain yang hendak meracuninya, tapi masih boleh diubati. Orang-orang tersebut tidak puas jika belum berhasil dalam usahanya. Hingga suatu ketika Saidina Hasan merasakan adanya racun pahit yang ada dalam makanannya. Rasanya seperti ditikam pisau dalam perutnya. Dengan menahan rasa sakit yang keras itu, beliau bertanya kepada saudaranya Saidina Husein: “Siapa yang menyembunyikan racun tersebut?” Saidina Husein tidak boleh menjawab, dan tidak lama kemudian beliau pun wafat.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 50 H menurut pendapat yang paling kuat, dan seluruh penduduk Madinah ikut berkabung, menguburkan jasadnya yang suci di Baqi’. Dikhabarkan di tempat itu tersebar bau harum sewangi kasturi, seolah-olah para malaikat menaburkan wewangian syurga di dalamnya.

Semoga Allah memberi rahmat kepada Saidina Hasan dan Saidina Husein. Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda tentang mereka berdua: “Mereka berdua termasuk pemuka para pemuda ahli syurga.”

Pemuka Para Pemuda Ahli Surga
Sejak saat kelahirannya, seisi langit menyambut kehadirannya. Seisi bumi di sekitarnya memancarkan sinar kesucian, diliputi dengan rahmat dan semerbak bau wangi yang ditaburkan oleh para malaikat. Ketika Rasulullah SAW mendengar bahawa puterinya Fatimah Az-Zahrah dikurniai putera, baginda bergegas menuju ke rumahnya. Nabi S.A.W menjumpainya dengan raut wajah yang bersinar, bak purnama.

Begitulah kebiasaan baginda ketika mendengar berita gembira. Kemudian Nabi mendekat kepada bayi yang masih suci, mengumandangkan azan di telinganya seperti azan solat. Itulah kalimat pertama yang didengar oleh Saidina Husein setelah kelahiran beliau di dunia pada tanggal 5 Syaban 4 H. Sebelum Rasulullah SAW berangkat ke rumah puterinya, Fatimah, baginda sudah mempersiapkan nama untuk bayi tersebut dengan nama “Husein”, suatu nama yang belum dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu.

Husein r.a. hidup di rumah ayahnya di Madinah. Rasulullah S.A.W pun mencintainya, dan mencintai saudaranya, Hasan r.a. dengan cinta yang amat dalam. Kecintaan baginda itu digambarkan oleh Usamah Ibn Zaid dalam suatu peristiwa yang disaksikannya sendiri. Usamah berkata: “Aku mengetuk pintu rumah Rasulullah S.A.W sambil membawa sesuatu yang tidak aku ketahui apa yang dibawanya. Setelah selesai dengan tujuan yang saya inginkan, aku bertanya kepada baginda: “Engkau sedang membawa apa ya Rasulullah?” Baginda pun membukanya. Ternyata itu adalah Hasan dan Husein. Baginda bersabda: “Kedua anak ini adalah anakku, dan anak puteriku. Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya. Maka cintailah keduanya, dan cintailah orang yang mencintai keduanya.”

Apabila Hasan dan Husein datang kepada datuknya, Rasulullah S.A.W, Baginda memeluk mereka dengan kasih sayang dan menciumnya satu persatu, kemudian memangkunya di atas pahanya. Para sahabat di sekitar baginda segera mengucap: “Sesungguhnya keduanya adalah pemuka para pemuda ahli syurga.” Sebahagian dari ucapan Rasulullah yang mencerminkan gelora kasih sayangnya pada Saidina Husein adalah, “Husein itu dariku dan aku dari Husein. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Husein. Husein adalah cucuku.”

Husein r.a. tumbuh dalam lingkungan yang paling bersih dan mulia dari sifat manusiawi. Datuknya adalah Rasulullah S.A.W pemuka sekalian makhluk. Ayahnya adalah Ali Ibn Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, memiliki peringkat teratas dari sifat dermawan, penuh pengorbanan, berjuang, dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibunya adalah Fatimah Az-Zahrah, seutama-utama perempuan pada masanya. Maka memadailah jika dikatakan bahawa dia adalah puteri Rasulullah S.A.W, isteri bagi pemimpin para pejuang, dan ibu dari pemuka para pemuda ahli syurga.

Dalam persekitaran perjuangan yang berbau kenabian yang bersinarkan wahyu serta penuh dengan peristiwa jihad inilah Saidina Husein r.a. menghabiskan masa kanak-kanaknya yang pertama. Di sekitar rumah ayahnya, Ali Ibn Abi Thalib, dan rumah datuknya Rasulullah SAW sampai beliau menginjak 6 tahun 7 bulan 7 hari, Rasulullah S.A.W pun wafat. Peristiwa wafatnya Rasulullah itu disaksikan oleh Husein r.a.

Bagaimana penduduk kota Madinah diliputi dengan rasa duka, dan bagaimana duka yang dialami oleh kaum muslimin yang sangat mendalam itu boleh menghilangkan akal sebahagian dari mereka. Sehingga orang genius seperti Umar Ibn Al-Khatthab diliputi dengan fikiran kosong. Umar berseru kepada orang-orang: “Barangsiapa berkata bahawa Muhammad telah mati, akan aku bunuh dengan pedangku ini!” Semua itu disaksikan oleh Husein r.a.

Kemudian dia mendengar perihal ayahnya dan kaum muslimin yang bercakap-cakap tentang perang Riddah. Beliau hidup semasa peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam keadaan jiwanya yang bersih. Tatkala mencapai usia remaja, ia menjadi anggota barisan para pejuang. Ia ikut bersama ayahnya dalam perang Jamal, Perang Shiffin dan perang melawan kaum Khawarij.

Ayahnya, Ali Ibn Abi Thalib, adalah pemimpin perang yang berwawasan jauh. Allah memberinya ilham terhadap perkara-perkara yang ghaib dan tidak dapat dijangkau oleh semua orang. Ketika beliau keluar dari Madinah menuju ke Kufah dan sampai di Karbala , beliau mengarahkan pandangannya di tanah tersebut dengan pandangan yang amat dukacita. Beliau berkata: “Di sinilah tempat berhenti perjalanannya, dan di sinilah tertumpah darahnya.”

Orang-orang di sekitarnya tidak mengerti ungkapan sedih dan mengharukan tersebut. Baru setelah beberapa tahun kemudian, terjadilah di situ peristiwa berdarah dalam peta dunia Islam. Rebutan kekuasaan dan peralihan kepemimpinan khalifah menjadi raja yang bengis sebagaimana hal tersebut pernah dikhabarkan oleh Rasulullah SAW, iaitu ketika Muawiyah membaiat puteranya, Yazid, dengan paksa. Seandainya tidak kerana kebijaksanaan Husein r.a., tentu darah kaum muslimin akan tumpah.

Pendiriannya boleh mencegah pecahnya perang antara golongan pembaiat dan penentangnya. Akan tetapi pertentangan tetap ada, meskipun secara sembunyi-sembunyi dalam tiap peribadi dan tidak nampak kecuali setelah kematian Muawiyah. Para pemuka Kufah mengirim surat kepada Husein r.a. meminta kepadanya agar hadir di Kufah untuk dibaiat. Husein menghadapi perkara ini dengan cermat. Beliau mengutus anak bapa saudaranya Muslim Ibn Aqil. Tapi ketika Ubaidillah Ibnu Ziyad menjadi penguasa Basrah, Muslim Ibn Aqil dibunuhnya. Peristiwa itu terjadi pada 9 Zulhijjah 60 H.

Peristiwa pembunuhan Muslim Ibn Aqil tersebut terjadi sebelum keluarnya Husein r.a. dari Makkah ke Kufah selang satu hari. Oleh kerana itu Husein r.a. tidak tahu tentang terbunuhnya Muslim Ibn Aqil sampai beliau tiba di Qadisiyah. Beliau mengutamakan kembali ke Makkah, namun kaum kerabat Muslim Ibn Aqil, tetap ingin melanjutkan perjalanan menuntut balas atas kematian saudaranya. Pengikut Husein r.a. ketika itu sekitar 70 orang, terdiri dari keluarga dan pendukungnya, baik dari kalangan lelaki, perempuan mahupun anak-anak.

Kejadiannya sangat cepat. Ketika dua utusan Husein terbunuh lagi, saat mengingatkan penduduk Kufah tentang syarat dan ajakan mereka untuk membaiatnya, dua utusan tersebut dibunuh oleh Ubaidillah Ibn Ziyad. Keadaan semakin serius, sampai pada puncaknya berakhir di Karbala, di mana kepala-kepala keluarga Rasulullah dipenggal, lalu kepala tersebut dibawa di atas hujung tombak menuju ke Ubaidillah Ibn Ziyad, kemudian diserahkan kepada Yazid Ibn Muawiyah di Damaskus. Husein terbunuh oleh orang yang bernama Syamr Ibn Dzi Jausyan, yang kemudian ia mendapat murka Allah, para malaikat dan kaum muslimin seluruhnya.

Kepala Husein yang mulia tersebut dipindahkan dari satu kota ke kota yang lain, kemudian ke kota Asqalan. Di situlah penguasa setempat menguburkannya. Lalu ketika bangsa Eropah berkuasa pada waktu perang Salib, Thalaih Ibn Raziq menebusnya dengan wang 30.000 dirham agar kepala tersebut boleh dipindahkan ke Kairo dan dapat dikubur di tempat di mana ia mati syahid semasa hidupnya.

Tentang kepala Husein r.a. di tempat syahidnya itu, para ahli sejarah berpendapat: bahawa ketika Abd Rahman hendak memperluas bangunan masjid Al-Husein, tempat tersebut ramai dikunjungi oleh orang-orang, termasuk di antaranya dua ulama popular, iaitu Syekh Al-Jauhary As-Syafi’i dan Syekh Al-Malwi Al-Maliki. Keduanya menyaksikan apa yang terdapat di dalam kuburan Husein. Diketahui bahawa kepala Saidina Husein r.a. dibungkus dengan kain sutera berwarna biru yang diletakkan dalam pundi emas di atas tempat ebonit. Demikian pula banyak petunjuk-petunjuk lain tentang kepala Saidina Husein r.a. dalam makam tersebut.

Allah menghendaki agar peristiwa yang menimpa pada cucu Rasulullah itu berlaku adil. Tiga tahun kemudian Yazid Ibn Muawiyah mati dengan cara yang hina, iaitu jatuh dari kudanya ketika sedang mengejar monyet. Lehernya patah, kuku kaki kudanya patah dan meringkik tidak tentu hala. Adapun Syamr Ibn Dzi Jausyan, si pembunuh Husein r.a., terbunuh oleh Mukhtar Ibn Abi Ubaid As-Tsaqafi, pelopor gerakan Tawwabin. Ia melemparkan jasad Syamr Ibn Dzi Jausyan agar dimakan anjing. Begitu pula nasibnya Ubaidillah Ibn Ziyad, terbunuh lalu dibakar. Sedangkan sisa-sisa pengikut Yazid Ibn Muawiyah mati terbunuh di tangan kelompok Tawwabin lainnya.

Allah memuliakan Kairo dengan dimakamkannya kepala Saidina Husein dan dikuburkannya beberapa Ahl Al-Bait di sana . Semoga Allah meredhai mereka dan memberinya tempat yang mulia dan darjat tertinggi di dunia dan akhirat

Thursday, June 11, 2009

Mukmin Sangat Ajaib


Dipetik dari : Kitab Sirah Rahikhul Makhtum
Diterjemah oleh : Aishahtur Raadhiyah Azman Shah

Para pemikir bertanya sesama mereka: Apakah sebab dan faktor yang membawa kaum muslimin sampai ke peringkat yang luar biasa ini? Bagaimana mereka boleh bersabar menghadapi ancaman dan penyeksaan yang menggerunkan, penyeksaan yang boleh menggoncangkan hati-hati yang berani? Memandangkan persoalan yang muncul di hati-hati naluri manusia, maka kita dapati adalah wajar untuk kita memaparkan sebahagian dari faktor-faktor ini secara ringkas:


1. Faktor utama di sini ialah keimanan dan keyakinan dengan Allah (s.w.t)
Keimanan yang teguh apabila menguasai hati-hati rijal ianya menjadi seberat gunung yang tidak mungkin dicabar. Bagaikan kiambang yang terapung di permukaan arus air laju menolak-nolak dan menghentak-hentak empangan, namun ianya tidak mungkin dapat memecahkan atau menjejaskannya, demikian orang yang memiliki keimanan yang mantap ini, langsung tidak menghiraukan ancaman yang memenatkan, malah dia akan merasai satu kemanisan dan kenikmatan iman dalam berhadapan dengan semua fitnah ini.

“Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya;tetapi yang bermanfaat bagi manusia akan tetap ada dibumi," (Al-Ra'd;17)


2. Pimpinan yang menarik hati-hati kepadanya.
Rasulullah merupakan pemimpin yang tertinggi bagi ummat Islam, bahkan bagi manusia sejagat, dimana Baginda dihias dengan kecantikan akhlak, jiwa yang sempurna, budi pekerti yang tinggi, tatasusila yang terpuji dan perketi yang mulia. Kesemuanya ini membuatkan hati-hati manusia tertarik dengannya, sanggup dan rela berkorban apa sahaja untuk mempertahankannya. Kesempurnaan Baginda sememangnya diidam-idamkan oleh semua manusia. Baginda merupakan lambang kemuliaan, kebaikan dan kelebihan, contoh kepada kesucian diri, amanah dan kebenaran. Baginda adalah sumber kebaikan yang diakui oleh pihak lawan lebih-lebih lagi taulan, tidak ada kalimah yang diungkapkan melainkan kesemuanya diyakini kebenarannya.


Sa'd bin Mu'az telah berkata kepada Umaiyah bin Khalaf semasa di Makkah: Aku telah mendengar Rasulullah berkata: "Mereka (kaum Muslimin) akan membunuh kamu" ini menyebabkan beliau terperanjat besar dan berjanji untuk tidak keluar dari Makkah, sebab itu bila beliau dipaksa oleh Abu Jahal supaya keluar berperang di Badar, beliau telah membeli seekor unta yang terbaik supaya beliau dapat berkejar dan pulang semula ke Makkah. Isterinya berkata kepada beliau: "Wahai Abu Sofwan, adakah kau telah lupa apa yang telah disebutkan dahulu oleh saudaramu al-Yathribi itu? Jawab beliau: Demi Allah, aku tidak ingin masuk ke tengah-tengah medan hanya dipinggirnya sahaja."



Inilah perasaan dan sikap musuh-musuh Rasulullah terhadap Baginda, manakala para sahabatnya pula mereka menjadikan Baginda sebagai roh dan jiwa mereka. Baginda adalah hati dan mata kepada mereka, jiwa-jiwa mereka tertarik kepada Rasulullah bagaikan besi tertarik kepada tarikan magnet, bak kata penyair:

Gambaran dirinya memenuhi setiap jasad, Jiwanya menarik setiap hati lelaki.



3. Perasaan tanggungjawab.
Sesungguhnya para sahabat merasakan dengan perasaan sempurna dimana tidak semua manusia memikul tanggungjawab yang berat ini. Tanggungjawab ini tidak boleh dielak atau ditolak dengan sebarang alasan, akibat penolakkan tanggungjawab ataupun melarikan diri darinya adalah sangat buruk dan berat malah lebih buruk lagi dari penyeksaan itu sendiri, kerugian yang bakal mereka alami terlalu besar jika dibandingkan dengan kepayahan yang mereka hadapi.



4.Kepercayaan dengan hari akhirat.
Mereka yakin dengan apa yang mereka lakukan semata-mata untuk Allah Rabbal Alamin, dimana mereka akan dinilai dan dihisab oleh Allah dari yang sekecil-kecil pekerjaan hinggalah yang sebesar-besar pekerjaan, balasannya sama ada ke syurga ataupun neraka jahanam. Mereka menghabiskan usia mereka di antara ketakutan dan harapan, mengharapkan rahmat Tuhan mereka dan takut dengan azabNya.

"Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut, kerana mereka tahu bahawa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan-Nya" (Al-Mu'minun : 60)

Mereka mengetahui Sesungguhnya dunia ini azabnya atau nikmat kesenangannya tidak lebih dari sebelah sayap nyamuk berbanding dengan balasan di akhirat kelak. Pengenalan yang mendalam ini membawa mereka merasa ringan dengan kepahitan dunia dan kesusahannya, hingga mereka tidak memberi perhatian langsung kepada dunia dan sengsaraAnNya itu.



5.Al-Quran:
Disaat yang menakutkan dan menggerunkan ini, turunlah ayat-ayat al-Quran memberi sokongan dan keterangan-keterangan mengenai ajaran dasar Islam, dimana dakwah di peringkat itu berkisar di sekitarnya, dengan uslub bahasa yang menarik pada masa yang sama menunjuk ajar kepada kaum muslimin jalan yang sebenar kepada dasar pembinaan sebuah masyarakat contoh di dunia ini, iaitu masyarakat Islam . Ayat-ayat al-Quran menyemarakkan perasaan kaum muslimin dan menyegarkan emosi kesabaran dan kecekalan yang telah menjadi contoh unggul kepada umat manusia sejagat.






"Adakah patut kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum sampai kepada kamu (ujian dan cubaan) seperti yang telah berlaku kepada orang yang terdahulu daripada kamu? Mereka telah ditimpa kepapaan (kemusnahan harta benda) dan serangan penyakit, serta digoncangkan (oleh ancaman bahaya musuh), sehingga berkata mereka yang beriman dengannya: "Bilakah (datangnya) pertolongan Allah?" Maka jawab Rasul: Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat (asalkan kamu bersabar dan berpegang teguh kepada agama Allah)". (al-Baqarah: 214)

Sebagaimana juga ayat-ayat al-Quran menolak tomahan-tomahan orang-orang kafir dan orang-orang yang ingkar dengan hujah-hujah yang kemas, hingga tidak memberi peluang langsung kepada mereka untuk menjawab. Al-Quran juga memperingatkan mereka kepada akibat-akibat buruk yang bakal mereka hadapi, tetapi mereka masih berdegil dan tidak mahu menerima kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah. Peringatan yang jelas berdasarkan kepada hari-hari Allah yang penuh dengan azabNya di masa silam dan bukti-bukti sejarah yang menjelaskan sunnah-sunnah Allah kepada wali-waliNya dan musuhNya, dan ada ketika ayat al-Quran berlembut dengan mereka dan bertegas memberi kefahaman serta bimbingan, sehingga mereka sedar dari kesesatan mereka yang nyata itu.

Dari sudut yang lain al-Quran membawa kaum muslimin ke suatu alam yang lain, membawa mereka melihat dan menikmati keindahan ciptaan Ilahi, kesempurnaan sifat ketuhanan Allah dan kesan-kesan belas kasihan Allah yang tidak dihalang oleh mana-mana pendinding.

Di dalam ayat-ayat ini tersemat percakapan yang ditujukan kepada kaum muslimin memberitahu mereka tentang berita-berita gembira dari Tuhan mereka mengenai rahmat, keredhaan dan syurga-syurga didalamnya, nikmat yang berkekalan. Al-Quran juga mendedahkan kepada kaum muslimin kedudukan seteru-seteru mereka, kafir, penzalim, mereka yang dihukum, dihalau dan diseret untuk disumbat ke dalam neraka.

Saturday, May 9, 2009

Fitnah Pembunuhan Uthman bin ‘Affan r.a.



Oleh : Ahmad Sabiq bin Abd Rahman

Nabi s.a.w berasa sempit dadanya melihat keadaan masyarakat jahiliyyah yang penuh rencam perangai mereka yang jelas menunjukkan kebodohan pemikiran manusia dikala itu, baginda s.a.w bersendirian di Gua Hira’ memikirkan tentang keadaan masyarakatnya ketika itu yang dibina dengan semangat kesukuan dan kepuakan, merendah-rendahkan orang lain, judi, penzinaan, peperangan yang sangat mudah tercetus hasil semangat kepuakan yang menjahanamkan.

Hadirnya nabi s.a.w ditengah masyarakat setelah menerima wahyu mengubah segala-galanya,. Jika sebelumnya, bangsa Rom dan Parsi yang telah maju kehadapan ketika itu melihat bangsa Arab sebagai bangsa yang tiada nilai sedikit pun untuk dijajah, bangsa hina, bodoh pemikirannya, lintang-pukang sistem kehidupannya, sehinggakan bertawaf dalam keadaan bogel! Namun Allah s.w.t memuliakan mereka dengan Islam, bahasa mereka luas dipergunakan di seluruh pelusuk dunia, tamadun mereka memasuki buku-buku sejarah sehingga sekalian alam mengetahui tentang mereka, begitu Islam memuliakan manusia.

Kata Saidina Umar al-Khatab :

“ Dahulunya kita adalah bangsa yang hina, kemudian Allah s.w.t memuliakan kita dengan Islam, jika kita ingin mencari kemulian yang selainnya(Islam), maka Allah s.w.t pasti akan menghina kita. ” ( Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘ala Sahihain )

Semangat ‘asabiyyah( kepuakan ) di hakis dan digantikan dengan semangat persaudaraan yang kukuh, semangat yang berpaksikan cinta Ilahi, bukan sogokan material keduniaan.
Firman Alah s.w.t yang bermaksud :

“ Dan ingatlah akan nikmat Allah keatas kamu, ketika kamu (di zaman jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menyatukan hati-hatimu, maka kalian, dengan nikmat Allah menjadi orang yang bersaudara.. Ali ‘Imran :103

Firmannya lagi yang bermaksud : “ Dan Allah yang menyatukan hati mereka(orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan seluruh kekayaan yang ada di muka bumi ini, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allahlah yang menyatukan hati-hati mereka. Al-Anfal : 63



Setelah kewafatan nabi s.a.w, bermula lembaran persengketaan sesama muslim, sehinggalah ianya memuncak ketika Uthman al-‘Affan menjadi khalifah umat Islam, pelbagai fitnah dilemparkan oleh golongan syaitan manusia, fitnah munafiq yang dikepalai oleh Abdullah bin Saba’ demi memecah-belahkan kaum muslimin, perbalahan para sahabat diidamkan munafiq, gembira bukan kepalang mereka melihat kaum muslimin bersengketa, pembunuhan yang sangat terancang dilakukan keatas Saidina Uthman, disitulah titiknya tercetus peperangan Jamal antara tentera yang dikepalai Ali r.a berhadapan dengan tentera Aishah r.a, disusuli peperangan Siffin antara tentera Ali r.a dan Muawiyyah r.a, para sahabat yang terlibat dalam peperangan tersebut, semuanya merasakan mereka berada di kedudukan yang benar dan segalanya dilakukan demi membela darah si syahid Uthman al-Affan.

Ibn Umar menceritakan bahawa ketika nabi s.a.w sedang bercerita tentang fitnah, kemudian lalu dihadapan kami seorang lelaki, kemudian nabi s.a.w bersabda :

“Suatu hari kelak, akan dibunuh lelaki yang sentiasa merasa cukup ini secara zalim.” Ibn Umar berkata, “aku melihat lelaki yang lalu itu ialah Uthman bin Affan.” ( Riwayat Tirmidzi dan al-Hakim dan disepakati oleh al-Zahabi.).

Kata-kata baginda s.a.w ini benar-benar berlaku keatas Uthman r.a, beliau dibunuh secara zalim, namun kekallah kemuliaannya disisi Allah sebagai seorang syahid.

Beraneka fitnah dilontarkan demi memburukkan Uthman r.a, dituduh melakukan bid’ah mengumpulkan dan membukukan al-Quran, membakar mushaf yang lain, memukul ‘Ammar sehingga pecah ususnya, dipukul Ibn Mas’ud sehingga patah rusuknya, membatalkan sunnah mengqasarkan solat ketika musafir, tidak menyertai peperangan Badar, tewas dan lari dari medan Uhud, tidak hadir ketika perjanjian Bai’ah al-Ridhwan, dan pelbagai lagi, sehinggalah surat palsu ciptaan munafiq keparat yang disandarkan kepada Ali, Talhah, dan al-Zubair yang kononnya mengarahkan mereka untuk mencetuskan pemberontakan keatas beliau bahkan dibunuh jika enggan melepaskan jawatan khalifah kaum muslimin.

Semua fitnah tersebut adalah batil! Tuduhan yang tiada asal-usul, menyeleweng daripada cerita sebenar,entah bagaimana dan dimana diperolehi cerita beliau memukul Ibn Mas’ud dan ‘Ammar, jika benar sekalipun, bagaimana ‘Ammar masih boleh terus hidup ketika ususnya telah pecah?, beliau membersihkan mushaf yang lain adalah demi menjadikan ketidakcelaruan umat mentelaah al-Quran,maka disatukan dan kita menggelarnya sebagai mushaf Uthmani, hal pengumpulan al-Quran telah pun dilakukan di zaman pemerintahan Abu Bakar lagi setelah melihat ramainya huffaz al-Quran syahid dalam peperangan, bagaimana usaha murni sebegini dianggap bid’ah dan batil? Tidak disetainya Badar kerana dibawah jagaannya, anak baginda s.a.w, Ruqayyah yang sedang sakit, nabi s.a.w menyebut bahawa beliau medapat pahala mereka yang syahid di Badar, kekalahan dan larinya dari medan Uhud telah Allah ampuni, bagaimana mungkin ditimbulkan semula oleh mereka? Bai’ahnya diwakilkan dengan tangan rasul s.a.w ketika peristiwa bai’ah al-Ridhwan,ketidakhadirannya kerana diperintah oleh baginda s.a.w untuk mengawasi kota mekah.
(riwayat al-Bukhari dalam kitab Fadhail al-Sahabat).

Setelah semua hujah fitnah mereka dipatahkan, hasilnya, satu surat palsu yang disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib,
jatuhkan Uthman! Cetuskan pemberontakan! Perangai yang sungguh keji dan syaitan ditunjukkan oleh munafiq, padanlah Allah menjanjikan mereka dengan neraka yang paling bawah!

“Sesungguhnya orang munafiq itu ditempatkan di neraka yang paling bawah( paling dahsyat azabnya) maka kamu sekali-kali tidak akan mendapati penolong bagi mereka.”
( al-Nisa’ : 145)

Bagaimana seorang insan yang dijanjikan syurga oleh baginda s.a.w boleh difitnah sedemikian teruk, telah disebut ketika hayat baginda s.a.w, bahawa beliau akan mati sebagai seorang syahid. Sabda Nabi s.a.w ketika baginda berada diatas bukit Uhud bersama dengan Abu Bakar, Umar, dan Uthman, tiba-tiba Uhud bergegar, sabdanya,

“Tetaplah wahai Uhud!( berhenti dari bergoncang) sesungguhnya diatas engkau seorang nabi, seorang yang membenarkan dan dua orang syahid.”

Kata Ibn Hajar al-Asqolani ketika menceritakan tentang Uthman didalam kitabnya, al-Isobah:

“ Sesungguhnya telah datang riwayat yang mutawatir bahawa nabi s.a.w memberi khabar gembira kepada Uthman dengan syurga..”




Uthman r.a sangat bersabar dengan tuduhan keatas dirinya demi mengelak perpecahan kaum Muslimin walaupun dirinya menjadi taruhan untuk dikorbankan, kelembutan dan kesantunannya menyebabkan pengkhianat dan musuh agama mengambil kesempatan mencetus dan menimbulkan kekacauan demi menjahanamkan Islam. Beliau sangat terkenal dengan sifat pemalunya sehinggakan para malaikat turut berasa malu dengannya, sabda nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Aishah:

“ adakah patut aku tidak berasa malu dengan lelaki yang para malaikat juga malu dengannya?”( Sahih Muslim)

Para sahabat mempertahankan kebenaran Uthman sehingga saatnya ingin dibunuh, sehingga disaat itu juga beliau berusaha untuk mengelakkan percecahan dan pergaduhan sesama muslim, rela dirinya dibunuh, ditegah sekalian sahabat yang cuba membela dan mempertahankannya, diarahkan para sahabat, antaranya Ibn al-Zubair, Hasan ibn Ali, Abu Hurairah untuk kembali ke rumah masing-masing, darahnya sanggup ditumpahkan demi menyelamatkan kesatuan ummah

Zaid bin Tsabit datang menemui Saidina Uthman : “ sesungguhnya mereka golongan Ansar berada di hadapan pintu rumahmu,” mereka berkata, jika engkau hendak ( kami mempertahankan engkau ),sesungguhnya kami adalah Ansarullah!” namun Uthman menolaknya, katanya, “ aku tidak berhajatkan semua itu, cukuplah.(tahanlah diri kalian daripada menghunuskan pedang peperangan).”(riwayat Ibn ‘Asakir)

Ketika harinya dibunuh, beliau seakan telah mengetahuinya, beliau memakai seluar pada hari tersebut, bimbang terbuka auratnya, benar beliau seorang yang sangat pemalu, sedang beliau tidak pernah memakainya ketika jahiliyyah mahupun era Islam. Beliau juga bermimpi berbuka puasa bersama baginda s.a.w, Umar al-Khatab dan Abu Bakar al-Siddiq di dalam syurga. (riwayat Ahmad dalam Musnadnya).

Pemberontak yang terdiri daripada perancang pemberontakan dan mereka yang diperdaya dan termakan hasutan untuk turut serta dalam pemberontakan, mereka mengepung rumah khalifah selama hampir sebulan, mereka merempuh masuk ketika para sahabat telah kembali ke rumah masing-masing setelah diperintahkan oleh ‘Uthman, pintu rumahnya di bakar, diugutnya untuk melepaskan jawatan, atau dibunuh!

“Aku tidak akan menanggalkan pakaian( jawatan khalifah) yang telah Allah pakaikan kepadaku! Aku akan terus berada dikedudukanku sekarang sehingga Allah memuliakan ahli sa’adah (orang yang dijanjikan kebahagiaan oleh Allah) dan menghina ahli syaqa’( orang yang dijanjikan kecelakaan oleh Allah ). ” demikian kata Uthman sebagaimana yang diriwayatkan didalam tarikh al-Tabari ketika diugut meletakkan jawatan khalifah kaum muslimin.

Akhirnya beliau dibunuh, ditetak perutnya..mengalir darah syahid.. menitis darah di mushaf yang berada ditangannya,isterinya Na‘ilah, yang cuba mempertahankan suami tercinta, putus tangannya ditetak pemberontak laknatullah. Kedua-dua pihak gembira dan berbahagia dengan peristiwa ini, berbahagialah Uthman menemui tuhannya sebagai syahid,berbuka puasa bersama Baginda s.a.w didalam syurga, sedang munafiq bergembira dengan kejayaan perancangan mereka menjatuhkan khalifah, nantikanlah kalian azab Allah yang membakar di akhirat kelak..

Bergelap dunia Islam tanpa khalifah,akhirnya Ali bin Abu Thalib diangkat menjadi khalifah menggantikan Uthman, beliau mengambil alih tampuk kepimpinan dalam keadaan yang sangat susah, ketika pemberontak bersenang-lenang ditengah masyarakat muslim. Fitnah tersebar Ummu al-mu’minin, Aishah, yang berada di Makkah menjadi gundah-gulana dengan hal yang menimpa dunia Islam, beliau merasakan perlu melakukan sesuatu demi menebus darah khalifah yang ditumpahkan secara zalim ,dikumpulkan kekuatan tentera, turut bersamanya dua orang sahabat yang turut dijanjikan syurga oleh baginda s.a.w, al-Zubair ibn ‘Awwam, dan Talhah ibn ‘Ubaidillah, mereka mara menuju ke kota Basrah, bukan untuk menafikan pemerintahan Ali, tetapi dengan maksud yang satu, iaitu mencari kesepakatan dengan kepimpinan Ali untuk membela darah Uthman.

Kesepakatan akhirnya berjaya dicapai, mereka tidur dan berehat dengan keadaan yang sangat tenang pada malam setelah kesepakatan tercapai, pemberontak yang turut berada di dalam tentera Ali sudah merasa tidak senang dengan kesepakatan tersebut, ini kerana ia membawa maksud, tidak lama lagi, pedang-pedang kebenaran akan dihalakan ke tengkuk mereka pula,akhirnya kesepakatan itu dicemari lagi oleh keparat munafiq yang menyerang secara sembunyi tentera ‘Aishah dan juga tentera ‘Ali, sehingga ‘Aishah menyangka ‘Ali belot! Mereka menyerang kita di waktu malam! ‘Ali juga menyangka sedemikian keatas ‘Aishah! ( al-Bidayah wa al-Nihayah: Ibn Kathir)

Tercetuslah peperangan yang dinamai sebagai peperangan Jamal antara tentera Aishah dan tentera Ali, kedua-dua pihak berasa sedih dan sesak dada mereka dengan hal yang berlaku ini, kaum munafiqin bergembira bertepuk tangan, Talhah gugur syahid dalam peperangan ini, Ali menangisinya,di sapu wajah Talhah yang dipenuhi tanah.. “Alangkah bagusnya jika aku mati dua puluh tahun dahulu sebelum berlakunya hal ini” kata Ali.. ( al-Awasim min al-Qawasim, tahqiq Muhibbudin al-Khatib)
di merata tempat.


Kesan fitnah pembunuhan ‘Uthman ini berentetan sehingga tercetusnya pula peperangan Siffin antara tentera Ali dan Mu’awiyyah, yang merupakan gabenor Syam yang sangat berwibawa, beliau dilantik ketika pemerintahan Uthman.

‘Ali menuntut bai’ah-janji setia-ke atas pemerintahannya dari Mu’awiyyah, namun beliau enggan memberikan bai’ah sehingga darah ‘Uthman dibela, bunuh dahulu pembunuh Uthman! Atau serahkan sahaja tengkok pemberontak itu kepada kami! Bukan Ali tidak berusaha mencari dan menegakkan hukuman keatas pembunuhan Uthman, tetapi kerana bukti yang sangat kurang kerana penjahat sebenar sangat pandai berselindung bertopengkan muslim,kemungkinan yang berlaku apabila bunuh seorang pencetus kekacauan, tiada lagi jalan untuk menutup fitnah, ditakuti tersalah menjatuhkan hukuman, maka kekacauan yang lebih besar didalam dunia Islam akan berlaku dan tidak mampu lagi dibendung, hal ini hampir sahaja berjaya dilakukan, namun, akibat tercetusnya peperangan Jamal yang dicetuskan oleh pemberontak yang bersembunyi di dalam tentera Ali, menyebabkan kesukaran untuk dihadapkan penjahat sebenar ke muka pengadilan.

Hasilnya tercetuslah peperangan antara dua pasukan tentera yang dikepalai oleh mereka berdua, masing-masing merasakan mereka berada dikedudukan yang benar demi menuntut bela keatas darah Uthman. Kedua-dua mereka berusaha untuk mengelakkan tercetusnya peperangan, mereka berdua adalah dari kalangan sahabat baginda s.a.w. Namun alangkah sedihnya hari ini kedengaran suara sumbang mereka yang cuba mencemari sejarah Islam, mentohmah para sahabat, mencaci Mu’awiyah yang enggan berbai’ah kepada Ali, sehinggakan berperang dengan kepimpinan Ali, sedang nabi s.a.w melarang daripada mencaci para sahabatnya! Sabdanya,
“ Jangan kamu mencaci para sahabatku! Demi jiwaku yang berada di tangan Allah, walaupun kamu membelanjakan harta di jalan Allah emas sebesar bukit uhud sekalipun, nescaya tidak sama dengan seorang pun daripada mereka atau separuh sekalipun”

Hari ini banyak kedengaran suara sumbang golongan yang merendah-rendahkan sekalian sahabat yang diredhai oleh Allah. Sedang perbalahan mereka para sahabat adalah atas dasar ijtihad, mereka tetap digelari sebagai mukmin. Firman Allah :

“jika ada dua kelompok dari kaum mukminin bertelagah, maka damaikanlah keduanya dengan adil dan saksama, sesungguhnya Allah sangat suka orang yang adil” al-Hujurat :9

Para ulama’ ada yang menyatakan kedua-dua mereka berada dikedudukan yang betul, ada yang menyatakan Ali berada dikedudukan yang betul dan Mu’awiyyah tersalah ijtihad didalam hal ini, sebahagian ulama’ pula menyebut bahawa mereka yang tidak terbabit langsung didalam peperangan ini adalah yang paling betul.( Minhaj Sunnah : Ibn Taimiyyah )

Walaubagaimanapun, kekallah kemuliaan para sahabat disisi Allah, mereka bertelagah, namun dihati mereka sesak dengan hal yang ditelagahkan, jiwa mereka saling mencintai. Pelbagai tohmahan kedengaran sehingga hari ini, perdamaian yang dicapai antara Ali dan mu’awiyyah dalam peristiwa tahkim dingkari, timbul pula satu puak yang tidak berpuas hati dengan perdamaian tersebut, berpecah mereka yang tidak berpuas hati itu menubuhkan satu puak baru yang digelari sebagai khawarij, habis sekalian sahabat dikafirkan

Sabda nabi s.a.w : “ orang yang dibunuh dan membunuh, kedua-duanya didalam neraka,” sahabat bertanya, “orang yang membunuh didalam neraka, bagaimana orang yang dibunuh juga dimasukkan ke nereka?” sabda nabi, “ sesungguhnya dia juga berusaha untuk membunuh saudaranya”( sahih bukhari)

Mereka menganggap kedua-dua puak mukmin yang bertelagah dimasukkan kedalam neraka, sesungguhnya ini adalah kefahaman yang batil! Menta’wil nas secara batil,Bagaimana Ali dan Aishah boleh dikatakan akan dihumban ke neraka kerana berperang di peperangan Jamal? Bagaimana Ali dan Mu’awiyyah ingin dikatakan akan dicampak kedalam neraka kerana bersengketa di peperangan Siffin? Sedang mereka telah dijanjikan syurga oleh baginda s.a.w? kerana itu para ulama menyatakan dosa perbalahan mereka dibebankan keatas bahu pencetus huru-hara. Kepalanya Abdullah bin Saba’! ketahuilah wahai saudaraku, mereka para sahabat saling mencintai antara satu sama lain, tidak pernah terdetik sekalipun di hati mereka untuk bersengketa, lebih lagi berbunuhan! Mereka tidak termasuk didalam hadith yang dinyatakan diatas tadi!

Demikian kucar-kacir dunia Islam ketika itu, semuanya bermula dari pembunuhan Uthman, beliau tidak bersalah, beliau dizalimi, porak-peranda kaum muslimin. Semoga ini menjadi iktibar kepada kita, sentiasalah kita mencintai dan menyayangi sekalian sahabat, berimanlah kita dengan firman Allah :

“ wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu berita perkhabaran dari orang fasik, maka selidikilah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa kamu mengetahui keadaannya yang sebenar, menyebabkan kamu menyesal dengan perbuatan itu”( al-Hujurat :6 )
الخطاب -

Thursday, April 2, 2009

Keistimewaan Sirah Rasullah


Keistimewaan Sirah
Rasulullah.
Oleh : ARAS
Pertama: Sirah Nabi s.a.w istimewa lantaran ia merupakan sirah yang menceritakan sejarah Nabi utusan Allah. Sirah Rasullah s.a.w telah kita terima melalui susur galur ilmiah yang paling tepat dan paling pasti. Susur galur ilmiah ini tidak memberi ruang untuk kita meragui kebenaran peristiwa besar dan penting yang berlaku. Ia juga memudahkan kita mengesan peristiwa dan mukjizat yang ditokok tambah oleh akal yang jahil dan gemar menambahkan sifat-sifat mengkagumkan Rasullah s.a.w pada zaman-zaman terkemudian melebihi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.
Keistimewaan sirah yang sahih lagi tiada sebarang keraguan ini, tidak terdapat dalam mana-mana sirah rasul-rasul Allah terdahulu. Sirah Musa a.s. yang ada pada hari ini telah bercampur aduk antara peristiwa-peristiwanya yang sahih dengan pemalsuan dan pindaan yang dimasukkan oleh Yahudi. Justeru itu, orang Islam tidak dapat beriman dengan kesahihan sirahnya melainkan apa yang dinyatakan dalam al-Quran al-Karim dan Sunnah Nabawiyyah yang sahih.
Kedua: Kehidupan Rasulullah s.a.w. pada setiap peringkat hidupnya amat jelas, sejak perkahwinan bapa Baginda, Abdullah dengan ibu Baginda, Aminah sehingga Baginda s.a.w. wafat. Kita mengetahui banyak perkara tentang kelahiran zaman kanak-kanak, zaman remaja, sumber pencarian Baginda sebelum kenabian dan pengembaraan-pengembaraannya ke luar Makkah sehinggalah Allah mengutusnya sebagai Rasul yang mulia. Kita juga mengetahui secara lebih teliti, jelas dan sempurna setiap hal ehwal Baginda selepas perutusan tersebut daripada tahun ke tahun. Ini menjadikan sirah Baginda s.a.w. jelas dan terang seumpama matahari.
Fenomena seperti ini tidak mudah didapati di kalangan mana-mana rasul yang terdahulu. Kita tidak tahu sesuatu pun tentang Musa a.s. ketika zaman kanak-kanak, zaman remaja mahupun sumber pencariannya sebelum kenabian. Kita hanya mengetahui sedikit sahaja berkenaan kehidupan Baginda selepas kenabian. Ini tidak memberi gambaran sempurna berkenaan keperibadiannya kepada kita
Sumber-sumber sirah yang sahih ini menyebutkan secara teliti kehidupan peribadi Rasul kita seperti makan, bangun, duduk, pakaian, rupa bentuk, gaya, percakapan, komunikasi bersama keluarga, ibadat, solat dan pergaulan Baginda dengan para sahabatnya. Bahkan penelitian dalam meriwayat sirah Baginda sehingga ke tahap mereka menyatakan kepada kita bilangan uban di kepala dan janggut Baginda s.a.w..
Ketiga: Sirah Rasulullah s.a.w. menceritakan perjalanan hidup seorang manusia yang dimuliakan Allah dengan risalah-Nya. Namun ia tidak mengeluarkan Baginda daripada sifat kemanusiaannya. Kehidupan Baginda tidak disertakan dengan dongengan, juga tidak ditokok tambah dengan sifat ketuhanan, sama ada sedikit mahupun banyak. Apabila kita bandingkan hal ini dengan cerita-cerita yang diriwayatkan oleh orang Kristian tentang perjalanan hidup Isa a.s., penganut Buddha tentang Gauthama Buddha, penyembahan berhala tentang tuhan sembahan mereka, akan jelas kepada kita perbezaan nyata antara sirah Baginda s.a.w. dan sirah mereka.
Lantaran perbezaan ini, ia memberi kesan jangka panjang kepada tingkah Iaku kemanusiaan dan kemasyarakatan pengikut-pengikut mereka. Dakwaan ketuhanan kepada Isa a.s. dan Gauthama Buddha menyebabkan mereka tidak boleh menjadi contoh teladan kepada manusia dalam kehidupan peribadi dan kemasyarakatannya. Sebaliknya, Muhammad s.a.w. akan terus menjadi model manusia yang sempurna kepada sesiapa yang ingin hidup bahagia dan mulia dari segi diri, keluarga dan suasana persekitarannya.
Oleh yang demikian, Allah Taala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) Allah dan (balasan baik) di hari akhirat kelak. (Al-Ahzab: 21)